Perlukah Kita Meramal Pergerakan Pasar Forex?

Perlukah Kita Meramal Pergerakan Pasar Forex?

binary option, cara trading forex, trading forex indonesia, aplikasi saham online,saham apln, aplikasi jual beli saham online, mandiri online trading, cara menggunakan metatrader 4,fx street, aplikasi saham android, aplikasi belajar saham

 



aplikasi autopilot trading - Saya cukup sering menemui trader yang (merasa) sudah cukup berpengalaman
dalam *trading forex* dan (merasa) bisa meramal pergerakan harga pasar
selanjutnya. 100% akurat. Setidaknya itu menurutnya.

Yah, memang jika Anda sudah memiliki “jam trading” yang sudah cukup
panjang, katakanlah: 20.000 jam trading, ada kecenderungan Anda akan
merasa sudah benar-benar memahami pasar hingga ke inti-intinya.

Izinkan saya menyampaikan bahwa perasaan seperti itu, setidaknya dari
pengalaman saya, seringkali justru menimbulkan malapetaka. Hati-hati,
jangan sampai Anda dihinggapi “sindrom dewa trading”.

OK, saya mengakui bahwa istilah barusan memang hanya rekaan saya. Bahkan
baru terpikir ketika saya menulis artikel ini. Yang saya maksud dengan
“sindrom dewa trading” adalah ketika seorang trader merasa, bahkan
meyakini, bahwa ia tidak akan mungkin salah memprediksi pergerakan
pasar. Ia yakin bahwa ia pasti akan selalu benar. Ia tidak akan mengakui
bahwa ia salah melakukan prediksi. Ia akan sebisa mungkin menyalahkan
semua hal, kecuali dirinya.

Sebenarnya ini adalah dampak dari terlalu tingginya tingkat kepercayaan
diri si trader. Bahasa kerennya: /overconfident/. Percaya diri itu
harus, tetapi *terlalu* percaya diri, wah, bahaya!

Pada kenyataannya, tidak ada – ulangi: *tidak ada* – satu pun orang di
luar sana, bisa memprediksi pergerakan harga 100% akurat. Selalu ada
waktu ketika pasar tidak bergerak sesuai dengan keinginan Anda.

Tapi jangan salah sangka. “Sindrom dewa trader” ini *tidak bisa*
disematkan kepada orang yang terus menerus memperbaiki kemampuan
analisanya melalui latihan dan latihan dengan tujuan untuk semakin
mengenali perilaku pasar. Itu adalah dua hal yang sama sekali berbeda.

Orang yang senantiasa memperbaiki kemampuannya harus senantiasa sadar
poin penting dari analisa, yaitu analisa bisa saja meleset. Dengan
demikian, meningkatkan kemampuan mengantisipasi *resiko* dan mengatur
*modal* merupakan bagian penting dari proses belajar dan berlatih itu.
 Tujuan yang ingin diraih dari proses peningkatan kemampuan ini adalah
kemampuan *menerima kerugian* bila terjadi, *mengakui kesalahan*,
*mengevaluasi* strategi trading dan membuat perbaikan yang dianggap perlu.

Ini benar-benar berbeda dengan sikap pengidap “sindrom dewa trader” yang
saya sebutkan tadi. Sang “dewa trader” tidak akan pernah melakukan
evaluasi karena ia selalu beranggapan, “/Gue nggak/ salah!”

*Bagaimana menghindarinya?*

Daripada meramal pasar, mari mulai belajar untuk menentukan “bias”, yang
bisa kita artikan sebagai “kecenderungan”. Di mana bedanya?

Yang saya maksud dengan “meramal pasar” adalah ketika kita membuat
prediksi yang hasilnya dianggap pasti akan terjadi. Contohnya, “Sell
GBPUSD sekarang, TP di 1.xxxxx.” Selesai. Tidak ada antisipasi jika
seandainya GBPUSD justru naik. Ya, karena si “dewa trader” merasa tidak
mungkin prediksinya salah.

Sementara itu “bias” bersifat lebih fleksibel karena terbuka pada
kemungkinan perubahan arah pasar.

Contohnya adalah seperti yang biasa Anda dapatkan dalam analisa harian
kami, di mana kami selalu menyertakan antisipasi jika seandainya pasar
bergerak berlawanan dengan bias yang kami lihat. Jika kami melihat bias
untuk GBPUSD hari ini adalah bearish, misalnya, kami selalu menyertakan
“exit strategy” jika seandainya GBPUSD justru bergerak naik. Dengan
demikian, trader yang mempergunakan analisa berbasis bias akan selalu
siap dengan teknik manajemen resiko seandainya pasar bergerak berlawanan
dengan analisa yang dibuat.

Ingatlah selalu bahwa pasar memiliki kehendaknya sendiri dan kita tidak
bisa mengaturnya. Kita harus mulai belajar untuk membuka dan menutup
transaksi berdasarkan apa yang kita *lihat*, bukan berdasarkan apa yang
kita *pikir* akan terjadi. Itulah yang membedakan analis dengan peramal.

Jadi, mulailah menganalisa. Hentikan kebiasaan “meramal”. - aplikasi autopilot trading


Artikel ini telah tayang di :  https://seputarforexhariini.blogspot.com
dengan Judul :    Perlukah Kita Meramal Pergerakan Pasar Forex?
Penulis :   seputarforexhariini

Posting Komentar

0 Komentar